Monday, December 12, 2011

My 3rd Wedding Anniversary




God sent you down
From heaven above
He picked you out
For me to love
He picked you out
From all the rest
Because He knew 
I’d love you best!


  

13 Desember 2011.. Hm, tak terasa waktu cepat sekali berlalu. Hari ini tepat 3 tahun saya menjalani pernikahan yang menurut saya luar biasa amat sangat bahagia sekali. Hahaha.. Bukan lebay tapi emang begitu yang saya rasakan BAHAGIA hidup bersama, berdampingan dengan jantung hati saya Arief Yustiawan.


Teringat, 9 tahun yang lalu di tahun 2002 disaat kami berkenalan di kampus tercinta. Flashback dulu aah, membuka memori-memori indah remaja dulu hihihi.. Kami satu kampus, satu angkatan dan satu kelas. Ya, seperti kisah cinta anak kedokteran pada umumnya, biasanya jodoh gak jauh-jauh : teman sejawat. Tapi kisah kami bukan karena witing tresno jalaran suko kulino, yang biasa dialami anak-anak kedokteran karena intensnya pertemuan dan teman yang itu-itu aja. Kami menempuh jalan express alias love at the first sight, berkenalan saat tugas Etika Kedokteran karena satu kelompok ternyata hubby udah naksir dari ospek!! Karena gak mau keduluan dianya pdkt duluan katanya, ambil langkah cepat. Cara pendekatan gak jauh bedalah dengan laki-laki pada umumnya datang ke kos, ngajak makan, ngajak jalan, tembak deh hahaha :)

Singkat cerita kami jadian, tiap hari ketemu, kuliah bareng, belajar bareng, cari tugas bareng, makan bareng. Kalau kata orang, jangan keseringan ‘bareng’ nanti bosan, tidak saya hiraukan. Jujur, sampai detik ini saya tidak pernah bosan melihat wajah suami saya, sampai kapan pun. Pacaran 6 tahun hampir gak pernah berantem, ngambek dikit-dikit cuma karena hal sepele biasalah, tapi gak sampai 3 jam udah baikan. Dan mau tau apa jurus andalan kalau lagi ngambek ‘ajak makan’ ya ampuuun murahan sekali saya hahaha. Tapi emang saya bukan tipe cewek yang suka ngambek lama-lama, gak suka aja, enak kalau semua clear terus happy-happy lagi, lagian gak tega lihat wajah yang memelas itu hehehe..

Selain kisah ‘jadian’ yang singkat, proses menuju pelaminan pun singkat. And I’m still amazed, menjalani perkenalan keluarga saat wisuda S1 dimana orangtua saling berkenalan merupakan salah satu hari yang paling bahagia dalam hidup saya. KECOCOKAN. Ya, saya bersyukur kedua orangtua kami sangat cocok, apalagi yang diharapkan sepasang kekasih selain kisah cinta mereka yang direstui oleh orang-orang yang mereka sayangi. Mungkin karena kecocokan inilah, hari pernikahan kami pun maju, berfikir akan diadakan setelah wisuda profesi ternyata diajukan saat stase terakhir kami. This is really out of my expectation.

Keberadaan kami dengan orangtua yang berbeda kota sempat membuat stress. Orangtua di Bengkulu, mertua di Jepara dan kami yang masih koas di Purwokerto cukup menyita pikiran. Pernikahan bukan hal sepele, menyatukan dua keluarga, menyatukan dua keinginan dan menyatukan dua ego. Untung, komunikasi diantara dua keluarga besar (melalui kami tentu perantaranya) berjalan baik. Saling pengertian, saling menghormati dan saling menghargai pihak lain menjadi kuncinya. Semua berjalan lancar, H-2 tiba, kami pun terbang ke Bengkulu, cuma dapat 5 hari izin dari kampus dan setelah itu harus ujian, huff..

Detik demi detik prosesi pernikahan kami nikmati (boro-boro mikirin ujian nanti), semua terasa lancar dan membahagiakan. Dan yang lebih membuat saya bahagia adalah bukan kami saja yang merasakan kebahagiaan itu, kedua keluarga besar pun larut dalam kebahagiaan kami, two family became one. Ini semua berkat kerja keras panitia. Big thanks to panitia yang udah mau meluangkan waktunya untuk mengurus pernikahan kami, teman-teman kantor mama-papa. Maklum, keluarga besar di jawa semua, tapi merekalah keluarga bagi kami disini, makasih ya om-tante *terharu*.

Tibalah acara ijab qabul, detik yang mengubah saya menjadi seorang istri dari lelaki yang sangat saya cintai, alhamdulillah indah sekali. Dengan sekali nafas, suami berhasil melafazkan ijab qabul daaan SAH saya menjadi Ny.Wawan. Selanjutnya, saatnya membangun keluarga yang sakinah, mawaddah wa rohmah. Sampai sekarang, kami masih berusaha untuk membangun keluarga samara itu. Perjalanan kami masih jauh dan berliku, membangun karir, mengenyam pendidikan, membesarkan anak-anak dan berguna bagi orang lain. Ya, 3 tahun ibaratnya masih balita, masih kecil, tapi balita adalah usia golden age, sama, kekuatan diawal pernikahan akan menjadi pondasi awal kelanggengan di masa depan. Insya Allah, dengan cinta, perhatian, komunikasi yang kami miliki dapat mengantarkan kami menjadi keluarga samara :)

Kini, kebahagiaan itu semakin dan semakin bertambah dengan kehadiran Almair Radit Haydar (Aldi)  dan calon adeknya yang berusia 5 bulan. Bersama seorang suami dan ayah yang sangat mencintai keluarganya saya mendapatkan keluarga yang sempurna. Keluarga yang saling mengasihi.  Thanks honey for everything, for being there and being you..

Disetiap doa saya selalu mengharapkan keabadian pernikahan, kelanggengan jodoh dengan suami saya, di dunia dan di akhirat, menjadi bidadari yang kelak ia pilih. Membina keluarga bahagia bersama karena cinta kami kepada Sang Khalik. Insya Allah. Aamiin.

Now, I've realized that I'm not a half empty cup anymore, I'm a full cup now, because of you Arief Yustiawan, Almair Radit Haydar and calon dedek. I love you. I love you. I love you :)

2 comments:

  1. Alhamdulillah ya.... Semoga keluarga kecil kita ini selalu dilimpahkan berkah dan kebaikan dr Allah SWT Amiin....

    Eeiit...yang wajah memelas itu jurus sakti lho ya, nyatanya bisa baikkan lagi kan hehehe.....

    ReplyDelete
  2. Aamiin 3x YRA.. Insya Allah ya yank.. Perjalanan masih panjang, tetap saling bergandengan ya :)

    Baikan lagi lebih karena 'diajak makan' nya pa, klo memelas aja tanpa diajak makan yaa emoh :p

    ReplyDelete